10 Dec 2025
by Editorial Insight
East Side Grit
Saat membahas tentang pembangunan SDM, ada satu pola pemikiran yang sering saya amati. Mayoritas orang masih melihat seolah-olah ini hanya urusan pelatihan, kurikulum, atau sertifikasi. Sejak bergabung di Insight dan terlibat langsung di ranah People & Organization Development, saya semakin memahami bahwa pembangunan SDM adalah komponen inti strategi organisasi. Idealnya, ia berdiri sejajar dengan strategi bisnis. Bukan di atasnya, bukan pula sekadar pelengkap di bawahnya.
Organisasi boleh saja memiliki strategi paling canggih, bahkan disusun oleh konsultan paling mahal. Namun jika individu-individunya tidak memiliki kapabilitas untuk mengeksekusi, berkolaborasi lintas fungsi, dan terus belajar meningkatkan kompetensi, maka strategi itu akan berhenti sebagai blueprint yang indah di atas kertas, tetapi lemah di implementasi.
Organisasi boleh saja memiliki strategi paling canggih, bahkan disusun oleh konsultan paling mahal. Namun jika individu-individunya tidak memiliki kapabilitas untuk mengeksekusi, berkolaborasi lintas fungsi, dan terus belajar meningkatkan kompetensi, maka strategi itu akan berhenti sebagai blueprint yang indah di atas kertas, tetapi lemah di implementasi.
Karena itu, di level negara, pembangunan SDM adalah strategic lever yang menjadi penentu daya saing, kohesi sosial, hingga ketahanan bangsa. Maka East Side Grit (ketangguhan SDM dari Timur Indonesia) tidak boleh diposisikan sebagai narasi romantik semata. Ia perlu dinaikkan menjadi agenda strategis nasional. Bukan karena Timur “tertinggal”, melainkan karena Timur menyimpan modal budaya ketangguhan yang, ketika diorkestrasi dengan tepat, dapat menjadi mesin akselerasi menuju Indonesia Emas 2045.
Belajar Grit dari Samudera
- Timur Indonesia bukan sekadar lanskap geografis. Ia adalah ruang budaya yang selama berabad-abad membentuk daya tahan, keberanian mengambil risiko, dan ketekunan. Tiga komponen yang sangat dekat dengan definisi “grit” dalam dunia modern.
- Mari kita mulai dari tradisi maritim Sulawesi Selatan. Pinisi. Seni pembuatan kapal tradisional di Sulawesi Selatan yang diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO. Bukan hanya karena teknologinya, tetapi karena ia merepresentasikan ekosistem nilai disiplin kerja, kolaborasi lintas peran, dan ketekunan generasi ke generasi. (UNESCO)
Di atas itu, ada jejak “passompe”, tradisi pelaut/perantau Bugis-Makassar, yang menunjukkan bahwa budaya maritim dan mobilitas bukan fenomena baru, melainkan bagian dari DNA sosial yang membentuk ketangguhan adaptif. (Ridhwan 26)
Lalu ada siri’ na pacce. Nilai kehormatan (siri’) dan solidaritas empatik (pacce), yang dalam kajian budaya Bugis-Makassar dikaitkan dengan dorongan menjaga martabat, loyalitas, kejujuran, serta daya juang untuk melakukan sesuatu sebaik mungkin. (Hasni, Dhahri, and Haris 1011) Ini relevan dengan grit. Grit tidak tumbuh dari motivasi kosong, tetapi dari “alasan bermakna” yang membuat seseorang bertahan, sekalipun berat saat menjalaninya.
Kenapa harus jadi agenda strategis nasional
Indonesia sudah menetapkan arah jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045. Dalam sasaran utama RPJPN 2025–2045, salah satu indikator kunci adalah peningkatan daya saing SDM yang diukur melalui kenaikan Human Capital Index menjadi 0,73. (Kementerian PPN/Bappenas) Artinya, negara secara eksplisit menempatkan kualitas manusia sebagai penentu performa ekonomi dan daya saing.
Di level eksekusi 5 tahunan, RPJMN 2025–2029 ditetapkan melalui Peraturan Presiden, yang pada dasarnya adalah operating system pemerintahan untuk mendorong prioritas pembangunan, termasuk aspek SDM. (Presiden Republik Indonesia). Dalam konteks ini, East Side Grit perlu diposisikan sebagai pendekatan, bagaimana modal ketangguhan dari Timur di-scale up menjadi kapasitas nasional dan bukan hanya menjadi kebanggaan daerah.
Apa yang membuat hal ini penting? Ketangguhan SDM bukan hanya isu “tenaga kerja”. Ia berdampak langsung pada:
- Produktivitas dan eksekusi strategi di organisasi dan di sektor publik
- Ketahanan sosial, kemampuan komunitas menghadapi tekanan ekonomi/krisis
- Kualitas institusi disiplin, integritas, dan kolaborasi lintas pihak
Dengan kata lain: grit adalah execution advantage.
Data yang mengingatkan: kita tidak bisa hanya mengandalkan narasi
Narasi budaya memang menginspirasi dan mampu memberi energi. Namun strategi butuh evidence. Salah satu alarm keras adalah isu kualitas pembelajaran: dalam Indonesia Learning Poverty Brief, World Bank menampilkan bahwa learning poverty di Indonesia (proporsi anak yang tidak mampu membaca dan memahami teks sederhana pada usia akhir SD) berada pada level yang mengkhawatirkan. (World Bank)
Bertolak belakang dengan itu, di saat yang sama, indikator makro seperti IPM menunjukkan perbaikan. IPM Indonesia 2024 mencapai 75,02 dan meningkat dari tahun sebelumnya. (Badan Pusat Statistik, “Indeks Pembangunan Manusia…”) Tentu ini adalah kabar baik. Tetapi di baliknya juga ada sebuah pesan yang jelas. Kenaikan indikator harus diterjemahkan menjadi peningkatan kapasitas nyata di tempat kerja dan di komunitas agar tidak berhenti sebagai statistik saja.
Karena itu, agenda East Side Grit bukanlah membuat Timur terlihat kuat. Agenda ini ingin menyambungkan modal budaya dengan kualitas pembelajaran dan kapabilitas kerja menjadi satu rantai nilai yang utuh.
“Orkestrasi” East Side Grit: dari modal budaya menjadi kapabilitas yang terukur
Jika East Side Grit konsisten kita perlakukan sebagai agenda strategis, maka pendekatannya perlu dilakukan berbasis sistem, bukan program satu kali. Setidaknya ada tiga tuas yang bisa dikerjakan lintas pemangku kepentingan:
- Grit yang ditopang fondasi kompetensi
Ketangguhan tanpa literasi dasar yang kuat akan membuat individu “tahan banting”, tetapi lambat naik kelas. Kita membutuhkan pipeline yang memperkuat fondasi (literasi-numerasi), lalu menghubungkannya dengan keterampilan kerja (problem solving, komunikasi, digital literacy). (World Bank) - Grit yang diubah menjadi disiplin eksekusi
Budaya maritim mengajarkan satu hal: laut tidak memberi ruang untuk improvisasi tanpa proses. Di organisasi modern, grit harus diterjemahkan menjadi kebiasaan eksekusi: goal clarity, ritme review, PDCA, dan akuntabilitas. Dengan demikian, ketangguhan tidak menjadi sekadar semangat, tetapi juga membawa hasil. (Presiden Republik Indonesia) - Grit sebagai ekosistem: sekolah–kampus–industri–komunitas
Tradisi Pinisi bertahan karena ekosistem. Ada pengrajin, pelaut, rantai pasok, transfer pengetahuan, dan identitas komunitas. (UNESCO) Prinsip yang sama berlaku pula untuk SDM. Peningkatan kualitas tidak bisa diserahkan pada satu institusi, apalagi satu bagian saja. Ia butuh shared agenda dan shared measurement.
Relevansi dengan Makassar Talent Expo 2026
Makassar Talent Expo (MTE) 2026 mengusung tema East Side Grit – Membangun SDM Tangguh dari Timur Indonesia. Acara ini bukan sekadar event tahunan. Kami ingin MTE menjadi platform orkestrasi, ruang untuk menyambungkan narasi, data, dan aksi.
Melalui rangkaian Road to MTE 2026 (webinar tematik, grit coaching untuk profesional dan mahasiswa/fresh graduate, serta call for essay), MTE mendorong tiga hal sekaligus:
- membangun awareness berbasis pengetahuan,
- menyiapkan capability building yang aplikatif,
- dan menciptakan thought leadership agar isu SDM Timur Indonesia naik kelas menjadi agenda nasional.
Karena pada akhirnya, Indonesia Emas 2045 tidak akan dicapai oleh dokumen rencana. Ia dicapai oleh manusia yang mampu bertahan, belajar, dan mengeksekusi perubahan dengan disiplin.
Referensi:
- Badan Pusat Statistik. “Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia Tahun 2024 Mencapai 75,02, Meningkat 0,63 Poin atau 0,85 Persen Dibandingkan Tahun Sebelumnya yang Sebesar 74,39.” BPS, 15 Nov. 2024. Accessed 14 Dec. 2025. Badan Pusat Statistik Indonesia
- Badan Pusat Statistik. Indeks Pembangunan Manusia 2024. BPS, 15 May 2025. Accessed 14 Dec. 2025. Badan Pusat Statistik Indonesia
- Hasni, Irsayad Dhahri, and Hasnawi Haris. “Degradation of Siri’ Na Pacce Cultural Values in the Bugis-Makassar Community.” Advances in Social Science, Education and Humanities Research, vol. 383, Atlantis Press, 2019, pp. 1011–1014. Atlantis Press+1
- Kementerian PPN/Bappenas. “Indonesia Emas 2045: Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2025–2045.” indonesia2045.go.id, n.d. Accessed 14 Dec. 2025. Indonesia 2045
- Presiden Republik Indonesia. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2025 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2025–2029. 2025. JDIH Maritim
- Ridhwan. “Passompe’s Tradition: Tracing Back the Maritime Culture of South Sulawesi’s People in Southeast Asia before the 16th Century.” Asia Pacific Journal on Religion and Society, vol. 6, no. 1, 2022, pp. 26–34. E-Journal UIN Suska
- UNESCO. “Pinisi, Art of Boatbuilding in South Sulawesi.” UNESCO Intangible Cultural Heritage, 2017. Accessed 14 Dec. 2025. Intangible Cultural Heritage
- World Bank. Indonesia Learning Poverty Brief. Apr. 2024, Version 2

