08 Dec 2025
by Editorial Insight
Skill yang Paling Dicari di 2026
Menjelang 2026, pasar tenaga kerja bergerak ke arah yang semakin membutuhkan skills-first. Perusahaan tidak lagi hanya mencari orang pintar, tetapi mencari talenta yang bisa menyelesaikan masalah nyata, membuat orang lain paham dan ikut bergerak, cepat beradaptasi, serta mampu membaca data untuk mengambil keputusan yang tepat. Hal ini bukan sekadar tren global. Di Indonesia, urgensinya terasa lebih tajam karena gap kompetensi masih nyata, sementara investasi dan adopsi teknologi (termasuk AI) terus melaju.
World Economic Forum menekankan bahwa resilience, flexibility, dan agility menjadi pembeda paling kuat antara peran yang bertumbuh dan yang mengalami penurunan. AI & big data termasuk skill yang pertumbuhannya paling cepat. Pada gilirannya, situasi ini menaikkan kebutuhan atas analytical thinking dan systems thinking (fondasi problem solving modern) (World Economic Forum, “3. Skills outlook”).
Di sisi lain, LinkedIn juga menyoroti percepatan perubahan skill: sekitar 70% skill yang dibutuhkan di banyak pekerjaan diperkirakan berubah pada 2030, dan daftar skills on the rise di berbagai negara konsisten memunculkan irisan yang sama: problem solving, communication, dan adaptability (LinkedIn, “Skills on the Rise 2025”).
Realitas industri di Indonesia
Teknologi berlari, kesiapan skill harus mengejar
Teknologi berlari, kesiapan skill harus mengejar
Indonesia sedang menyiapkan national AI roadmap untuk menarik investasi dan membangun ekosistem AI. Namun analis juga menegaskan bahwa laju pengembangan AI masih terhambat oleh keterbatasan infrastruktur dan kekurangan tenaga kerja terampil (Widianto, “Indonesia targets foreign investment…”).
Dalam narasi yang sama, Reuters mengutip laporan BCG: kontribusi AI terhadap PDB negara-negara ASEAN diproyeksikan 2,3%–3,1% pada 2027, dan Indonesia diproyeksikan memperoleh dampak absolut terbesar. Artinya permintaan talenta yang siap kerja di era AI akan makin kompetitif (Widianto, “Indonesia targets foreign investment…”).
Dalam narasi yang sama, Reuters mengutip laporan BCG: kontribusi AI terhadap PDB negara-negara ASEAN diproyeksikan 2,3%–3,1% pada 2027, dan Indonesia diproyeksikan memperoleh dampak absolut terbesar. Artinya permintaan talenta yang siap kerja di era AI akan makin kompetitif (Widianto, “Indonesia targets foreign investment…”).
Investasi juga sudah bergerak ke ranah konkret. Microsoft, misalnya, menyatakan investasi US$1,7 miliar untuk cloud dan AI di Indonesia serta komitmen AI skilling untuk 840.000 orang di Indonesia (Microsoft, “Microsoft announces US$1.7 billion…”; Widianto, “Microsoft to invest…”).
Kesiapan dasar tidak bisa diabaikan. Faktanya, laporan SMERU tentang lanskap keterampilan digital menunjukkan tenaga kerja Indonesia masih didominasi level basic–intermediate, sementara level advanced sangat kecil, serta ada disparitas akses dan kesiapan antar wilayah (SMERU Research Institute).
Fondasi literasi juga berdampak langsung pada data literacy: country note OECD untuk PISA 2022 mencatat hanya 25% siswa di Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih dalam membaca (OECD, “PISA 2022… Indonesia”).
Bahkan pada populasi dewasa (studi OECD di Jakarta), sekitar 70% orang dewasa berada di Level 1 atau di bawahnya untuk literasi. Pada praktiknya, ini mempengaruhi kemampuan memahami instruksi, menilai informasi, dan mengolah data sehari-hari (OECD, Jakarta (Indonesia) – Country Note, 2).
Di situasi ini, “East Side Grit” menjadi relevan. Ketangguhan SDM dari Timur Indonesia adalah tentang semangat dan juga tentang kapabilitas yang bisa dieksekusi, terutama pada empat skill berikut.
1) Problem Solving: dari “kerja keras” ke “kerja cerdas yang terukur”
Problem solving di 2026 bukan sekadar cepat tanggap. Standarnya naik menjadi mampu mendefinisikan masalah dengan presisi, membaca pola, memilih prioritas, dan mengeksekusi solusi berbasis bukti. WEF menekankan meningkatnya kebutuhan analytical thinking dan systems thinking karena keputusan kerja makin kompleks dan data-driven (World Economic Forum, “3. Skills outlook”).
Problem solving di 2026 bukan sekadar cepat tanggap. Standarnya naik menjadi mampu mendefinisikan masalah dengan presisi, membaca pola, memilih prioritas, dan mengeksekusi solusi berbasis bukti. WEF menekankan meningkatnya kebutuhan analytical thinking dan systems thinking karena keputusan kerja makin kompleks dan data-driven (World Economic Forum, “3. Skills outlook”).
Mengapa skill ini makin dicari di Indonesia?
Saat ini banyak organisasi sedang menjalankan transformasi. Mulai dari digitalisasi proses, efisiensi rantai pasok, standardisasi layanan, sampai adopsi AI. Tetapi di lapangan, bottleneck klasik tetap muncul, mencakup kualitas eksekusi, koordinasi lintas fungsi, dan keputusan yang tidak konsisten. Talenta yang punya problem solving muscle mampu menutup gap ini.
Praktik penguatan apa yang realistis dilakukan untuk organisasi?
- Latih problem framing. Ajak tim membedakan gejala vs akar masalah, dan gunakan pemetaan isu sederhana.
- Terapkan PDCA atau Kaizen sebagai ritme kerja, bukan proyek musiman.
- Biasakan pengambilan keputusan dengan data minimum, bukan menunggu data sempurna. Definisikan 3–5 metrik kunci, lalu eksperimen kecil yang cepat.
2) Communication: skill yang mengubah ide menjadi aksi kolektif
Di banyak organisasi, masalahnya bukanlah kekurangan ide, tetapi kegagalan melakukan alignment. Communication yang dicari 2026 adalah kemampuan mengubah kompleksitas menjadi kejelasan. Clarity, influence, stakeholder management, dan feedback hygiene. LinkedIn memasukkan “communication” sebagai skill yang naik kebutuhannya di berbagai pasar tenaga kerja (LinkedIn, “Skills on the Rise 2025”).
WEF juga menegaskan pentingnya human-centred skills dan kemampuan kolaborasi manusia-mesin, yang membuat komunikasi makin strategis, bukan sekadar soft skill (World Economic Forum, “3. Skills outlook”).
WEF juga menegaskan pentingnya human-centred skills dan kemampuan kolaborasi manusia-mesin, yang membuat komunikasi makin strategis, bukan sekadar soft skill (World Economic Forum, “3. Skills outlook”).
Mengapa hal ini krusial untuk konteks Indonesia (terutama di wilayah-wilayah selain big cities)?
- Eksekusi lapangan sering tersebar (multi-site, multi-outlet, multi-proyek) sehingga miskomunikasi jadi biaya tersembunyi.
- Transformasi butuh narasi yang dipahami lintas level: owner, manajer, supervisor, kru operasional.
- Kolaborasi lintas generasi dan lintas latar belakang makin intens; komunikasi jadi bridge.
Praktik penguatan yang dapat dilakukan organisasi:
- Biasakan lakukan briefing 15 menit sebelum meeting. Definisikan tujuan, data kunci, dan keputusan yang diminta.
- Latih data storytelling sederhana dengan framework what - so what - now what.
- Bangun budaya feedback singkat dan konsisten (misalnya mingguan), bukan menunggu evaluasi tahunan.
3) Adaptability: kemampuan bertahan, dan tetap produktif, di tengah perubahan
WEF secara eksplisit menyebut resilience, flexibility, dan agility sebagai pembeda terbesar antara pekerjaan yang bertumbuh dan yang menurun (World Economic Forum, “3. Skills outlook”).
Di Indonesia, sinyal ke arah ini cukup jelas. Pemerintah mendorong arah strategis AI dan investasi digital. Di lain pihak, kesiapan ekosistem masih berproses, sehingga perubahan tools, workflow, bahkan job design akan terus terjadi (Widianto, “Indonesia targets foreign investment…”).
Di Indonesia, sinyal ke arah ini cukup jelas. Pemerintah mendorong arah strategis AI dan investasi digital. Di lain pihak, kesiapan ekosistem masih berproses, sehingga perubahan tools, workflow, bahkan job design akan terus terjadi (Widianto, “Indonesia targets foreign investment…”).
Adaptability yang dicari 2026 bukan sekedar “ikut-ikutan tren”, melainkan adaptability yang cepat belajar hal baru, nyaman dengan proses iterasi, mampu unlearn cara lama yang tidak relevan, dan tetap menjaga kualitas dan akuntabilitas.
Praktik penguatan yang layak dicoba:
- Terapkan learning sprint 2–4 minggu: satu skill kecil, satu output nyata, satu sesi retrospektif.
- Pergantian peran lintas fungsi 1–2 hari per bulan untuk memperluas perspektif sistem.
- Biasakan lakukan after-action review. Evaluasi apa yang yang sudah baik, apa yang perlu diperbaiki,, apa yang diubah minggu depan.
4) Data Literacy: kemampuan membaca realitas sebelum mengambil keputusan
Data literacy kini menjadi “bahasa kedua” di tempat kerja. WEF menempatkan AI & big data sebagai skill yang pertumbuhannya paling cepat dan menghubungkannya dengan kebutuhan keputusan yang lebih kritis di dunia kerja berbasis data (World Economic Forum, “3. Skills outlook”).
Di Indonesia, investasi AI dan cloud mendorong permintaan talenta yang mampu bekerja dengan data—Microsoft bahkan mengarahkan program pelatihan besar untuk keterampilan AI, termasuk untuk ratusan ribu orang di Indonesia (Microsoft, “Microsoft announces US$1.7 billion…”).
Di Indonesia, investasi AI dan cloud mendorong permintaan talenta yang mampu bekerja dengan data—Microsoft bahkan mengarahkan program pelatihan besar untuk keterampilan AI, termasuk untuk ratusan ribu orang di Indonesia (Microsoft, “Microsoft announces US$1.7 billion…”).
Tantangannya: fondasi literasi dan kesiapan digital belum merata. PISA 2022 menunjukkan hanya 25% siswa mencapai level minimum tertentu dalam membaca (Level 2+), yang berpengaruh pada kemampuan memahami informasi kompleks (OECD, “PISA 2022… Indonesia”).
Sementara laporan SMERU menegaskan masih adanya gap keterampilan digital dan ketimpangan kesiapan lintas wilayah (SMERU Research Institute).
Sementara laporan SMERU menegaskan masih adanya gap keterampilan digital dan ketimpangan kesiapan lintas wilayah (SMERU Research Institute).
Data literacy yang dimaksud adalah kemampuan praktis membaca data, bukan harus menjadi data scientist. Keterampilan ini termasuk:
- Mampu membaca tabel/grafik dasar dan memahami konteks.
- Mampu mengajukan pertanyaan data yang benar: “dibanding apa?”, “tren atau anomali?”, “sumbernya valid?”
- Mampu mengubah data menjadi keputusan operasional: prioritas, target, dan follow-up.
Praktik penguatan sederhana:
- Mulai dari metric discipline: 5 metrik mingguan yang benar-benar dipakai untuk keputusan.
- Latih “fact vs assumption” di dalam rapat.
- Ajarkan AI literacy sebagai pelengkap: bagaimana menggunakan AI untuk mempercepat analisis tanpa menyerahkan judgment sepenuhnya.
Apa Pengaruhnya untuk HR dan Leader?
Perlunya membangun talent system yang future-ready
Jika empat skill ini adalah mata uang organisasi di 2026, maka pekerjaan HR dan para leader adalah membangun sistem agar skill itu tumbuh dan terukur, bukan hanya jadi jargon.
Langkah yang paling berdampak:
- Skills-based hiring & internal mobility. HR perlu melakukan proses rekrutmen dan promosi berbasis kompetensi, bukan semata jabatan/masa kerja.
- Learning by doing melalui proyek nyata, on-the-job coaching, dan short cycle feedback.
- Standarisasi problem solving tools Misalnya dengan PDCA, RCA, fishbone diagram agar kualitas eksekusi konsisten lintas unit.
- Data as a habit. Mulai dengan dashboard sederhana dilanjutkan dengan ritual review mingguan. Sehingga laporan bukan hanya “cantik” tapi tidak dipakai.
Dengan situasi ini, “East Side Grit” menjadi sebuah strategi. Ketangguhan bukan hanya slogan, tetapi kapabilitas yang dipupuk dengan konsisten agar talenta di Timur Indonesia tidak hanya siap kerja, tetapi juga siap memimpin perubahan.
Referensi
- LinkedIn. “Skills on the Rise 2025.” LinkedIn, 2025, https://www.linkedin.com/pulse/skills-on-the-rise/. Accessed 14 Dec. 2025. LinkedIn
- Microsoft. “Microsoft announces US$1.7 billion investment to advance Indonesia’s cloud and AI ambitions.” Microsoft Stories Asia, 30 Apr. 2024, https://news.microsoft.com/apac/2024/04/30/microsoft-announces-us1-7-billion-investment-to-advance-indonesias-cloud-and-ai-ambitions/. Accessed 14 Dec. 2025. Source
- OECD. “PISA 2022 Results (Volume I and II) – Country Notes: Indonesia.” OECD, 5 Dec. 2023, https://www.oecd.org/en/publications/pisa-2022-results-volume-i-and-ii-country-notes_ed6fbcc5-en/indonesia_c2e1ae0e-en.html. Accessed 14 Dec. 2025. OECD
- OECD. Jakarta (Indonesia) – Country Note – Skills Matter: Further Results from the Survey of Adult Skills. OECD, 2016, https://www.oecd.org/content/dam/oecd/en/about/programmes/edu/piaac/country-specific-material/cycle-1/Jakarta-Indonesia-Note.pdf. Accessed 14 Dec. 2025. OECD
- SMERU Research Institute. Diagnostic Report: Digital Skills Landscape in Indonesia. SMERU Research Report No. 2, Feb. 2022, https://smeru.or.id/sites/default/files/publication/final_diagnostic_report_clean.pdf. Accessed 14 Dec. 2025. SMERU Research Institute+1
- Widianto, Stanley. “Indonesia targets foreign investment with new AI roadmap, official says.” Reuters, 22 July 2025, https://www.reuters.com/business/media-telecom/indonesia-targets-foreign-investment-with-new-ai-roadmap-official-says-2025-07-22/. Accessed 14 Dec. 2025. Reuters
- Widianto, Stanley. “Microsoft to invest $1.7 billion in cloud, AI in Indonesia, CEO says.” Reuters, 30 Apr. 2024, https://www.reuters.com/technology/microsoft-invest-17-bln-cloud-ai-indonesia-ceo-says-2024-04-30/. Accessed 14 Dec. 2025. Reuters
- World Economic Forum. “3. Skills outlook.” The Future of Jobs Report 2025, World Economic Forum, 2025, https://www.weforum.org/publications/the-future-of-jobs-report-2025/in-full/3-skills-outlook/. Accessed 14 Dec. 2025. World Economic Forum

